SELAMAT DATANG

Terima Kasih dan Selamat Datang di Bung Joss.

Ini adalah media pembelajar. Anda bisa belajar dan sekaligus anda juga bisa mengajar.

Itulah esensi sebuah semangat berbagi yang coba saya kembangkan di blog ini.

Akhirnya, semoga blog ini berarti bagi anda dan saya. Terima kasih.

Salam Joss....
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

12 Juni, 2013

SEKILAS DEPRESI

Dalam kehidupan ini, kita senantiasa dihadapkan pada banyak tantangan, hambatan ataupun kesulitan hidup. Tidak jarang, situasi hidup yang demikian lalu menyebabkan kita mengalami sebuah jenis gangguan mood yang disebut dengan depresi. Dalam Kamus Psikologi J.P. Chaplin, depresi pada orang normal merupakan keadaan kemurungan (kesedihan, kepatahan semangat) yang ditandai dengan perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan, dan pesimisme dalam menghadapi masa yang akan datang. Sementara pada kasus patologis, merupakan ketidakmauan ekstrim untuk mereaksi terhadap perangsang, disertai menurunnya nialai-nilai diri, delusi ketidakpasan, tidak mampu dan putus asa.

Jenis Depresi
Depresi merupakan salah satu jenis Gangguan Mood. Mood sendiri merupakan kondisi perasaan yang terus ada yang mewarnai kehidupan psikologis kita. Gangguan-gangguan depresi, termasuk unipolar, artinya terjadi hanya pada satu arah atau kutub emosional ke bawah. Gangguan-gangguan depresi, antara lain :
  1. Depresi Mayor :
Depresi yang terjadinya satu atau lebih periode tanpa episode manik (maniak) atau hipomanik (maniak yang lebih ringan) alami. Ini adalah jenis depresi yang berat. Menurut para ahli, umumnya orang yang pernah mengalami depresi mayor dapat kambuh lagi

2.  Gangguan distimik :
Merupakan depresi ringan, dan terjadi dalam suatu rentang waktu. Pada orang dewasa, biasanya dalam beberapa tahun, pada anak-anak dan remaja dapat berupa mood yang menyulitkan mereka.

Ciri-Ciri Depresi
Orang yang mengalami depresi, biasanya memiliki ciri-ciri yang bisa diamati. Secara emosional, mereka terlihat sedih, muram bahkan menangis, mudah tersinggung, gelisah dan tidak sabar. Dari sisi motivasi, mereka kurang bahkan tidak memiliki, terutama untuk memulai kegiatan dipagi hari, sulit bangun pagi, rendahnya minat pada kegiatan sosial, menurunnya minat pada seks dan seringkali gagal memberi respon. Dari sisi motorik, mereka terlihat bergerak atau berbicara lebih perlahan daripada biasanya, makan terlalu banyak atau terlalu sedikit, kurang aktif dalam fungsinya ditempat kerja atau sekolah. Secara kognitif, mereka sulit konsentrasi dan berpikir jernih, bahkan mereka berpikir secara negatif tentang diri sendiri, adanya perasaan bersalah akan kesalahan dimasa lalu, rendahnya self esteem bahkan lebih parahnya, kadang-kadang mereka berpikir tentang kematian atau bunuh diri.

Biasanya wanita memiliki potensi mengalami depresi lebih besar daripada pria, khususnya depresi mayor. Hal ini terjadi barangkali karena pria lebih cenderung mengalihkan pikiran mereka saat mereka depresi atau lebih mudah mencari penyaluran, sedang wanita lebih cenderung merenungkan perasaan mereka dan dan mencari kemungkinan penyebabnya.



Penyebab Depresi
Ada beberapa teori yang menguraikan bagaimana terjadi depresi atau apa sesungguhnya penyebab depresi, antara lain :

Teori Psikodinamika
Depresi terjadi karena perasaan duka yang mendalam akibat kehilangan orang yang dikasihi.

Teori Humanistik
Depresi terjadi karena seseorang tidak bisa mengaktualisasikan diri atau tidak dapat menemukan makna hidup.

Teori Belajar
Depresi terjadi karena ketidakseimbangan antara output  perilaku dan input reinforcement (penguatan perilaku) yang berasal dari lingkungan.

Teori Kognitif
Depresi terjadi karena ada pandangan negatif terhadap diri sendiri, lingkungan atau dunia secara luas dan masa depan.

Penanganan Depresi
  1. Pendekatan Psikodinamika : Psikoterapi Interpersonal.
  2. Pendekatan Behavioristik : Modifikasi Perilaku, Coping With Depression (CWD) Course.
  3. Pendekatan Kognitif : Terapi Kognitif
  4. Pendekatan Biologis : Obat-obatan Antidepresan, Terapi Elektrokonvulsif (ECT).
Model penanganan lainnya yang saat ini sedang berkembang adalah dengan teknik-teknik relaksasi, hipnoterapi, NLP (Neuro Linguistic Programming) dan EFT (Emotional Freedom Tecnique).

Sebagai penutup catatan singkat tentang depresi ini, ingin kami katakan bahwa jikalau kita sepakat bahwa depresi itu merupakan sebuah masalah, maka ingatlah bahwa sesungguhnya sesuatu yang kita anggap sebagai masalah, apapun itu, seringkali datangnya dari diri sendiri, tidak jarang kita sendirilah penyebabnya. Bukan dari orang lain, juga bukan dari lingkungan, tetapi oleh karena kegagalan kita dalam memberikan pemaknaan yang positif atas setiap situasi dan peristiwa hidup kita. Karena sejatinya dalam setiap situasi maupun peristiwa hidup, selalu ada sisi positif yang bisa kita lihat, kita rasakan dan kita dengarkan. Salam Joss…..(Yoseph Tien, dari berbagai sumber pembelajaran)

BAGAIMANA MENGAMBIL KEPUTUSAN SECARA CERDAS

Seorang filsuf besar, Albert Camus, pernah mengatakan bahwa “segala sesuatu di dunia ini bersifat pilihan”. 


Setiap waktu dalam hidup, kita banyak dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dalam pengalaman saya, keindahan perjalanan hidup juga setidaknya ditentukan dari proses pengolahan diri dalam menentukan setiap pilihan.
Minggu – minggu terakhir ini, setiap orangtua yang memiliki anak sekolah yang duduk di kelas akhir dari berbagai jenjang (SD, SMP dan SMA/SMK), mulai sibuk, repot dan harap-harap cemas dengan hasil UN anaknya. Dan sore hari ini (08/06) pukul 15.00 WIB, saya juga harus menghadiri undangan pengumuman kelulusan UN SD dari putri sulung saya, Joice. Para orangtua yang anaknya tamat SD, SMP ataupun SMA/SMK, tidak sedikit barangkali yang sudah sibuk kesana-kemari, kasak-kusuk bertanya tentang sekolah atau program studi atau jurusan apa yang akan dipilih oleh sang anak atau dipilihkan oleh orangtuanya sendiri. Di situasi ini, mungkin ada juga orangtua yang mungkin santai saja, tenang saja, biasa saja karena berbagai sebab, tidak tahu, tidak mau tahu, atau tidak tahu kalau tidak tahu. Apapun sikap atau pilihan yang diperankan para orangtua, tentu saja itu berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam dirinya.


Harian Kompas, hari ini pada kolom karier-nya mengangkat tema Keputusan Bijaksana. Pada bagian terakhir dari tulisan itu, dikemukakan konsep “Situation Awareness” atau kesadaran atas situasi yang kita hadapi, dapat menjadi landasan bagi seseorang dalam mengambil sebuah keputusan. Situation awareness terdiri atas tiga tahap. Pertama adalah persepsi terhadap lingkungan untuk dicerna dan disimpan dalam ingatan. Kedua, menerjemahkan situasi dengan memberi arti dan sense pada hal-hal yang terlihat tersebut dengan kemampuan analisis yang tajam.  Ketiga, melakukan proyeksi pada hal-hal yang terjadi di masa mendatang sehingga kita bisa me’radar’ masa depan dengan penglihatan yang jelas. Kata kuncinya adalah kesadaran. Setiap keputusan diambil berdasarkan kesadaran kita pada situasi, berawal dari rekaman persepsi kita pada sebuah situasi atau lingkungan yang mengandung makna tertentu kemudian berdasarkan makna itu kita menggambarkan situasi masa depan yang mungkin terjadi. Sebuah konsep pengambilan keputusan yang bergerak dari kekinian persepsi dan makna pada suatu situasi yang sedang dihadapi.


Transformasi Berpikir
Berbicara tentang pengambilan keputusan, Bill Gould dalam bukunya “Transformational Thingking” menjelaskan tentang bagaimana sebuah keputusan dibuat, dengan menggunakan metafora yang menarik sekali. Sebuah keputusan adalah seperti sebuah kerikil yang kita lempar ke sebuah kolam yang tenang. Riak yang bergerak dari tengah dan merambat 360ยบ adalah efek keputusan kita. Saat mengalir ke arah luar, riak-riak itu menyentuh apa pun yang ada dijalannya. Riak-riak dari keputusan itu mempengaruhi siapapun disekitar kita secara langsung atau tidak langsung. Pertanyaan yang muncul, apa yang terjadi saat riak-riak itu menyentuh objek-objek atau bagian yang jauh? Riak-riak itu langsung berbalik arah dan kembali ke sumbernya. Inilah bagian yang biasanya kita lupakan, sementara di sisi lain kita tahu dan selalu percaya bahwa ‘kita selalu menuai apa yang kita tabur’ atau ‘kita selalu menerima apa yang telah kita beri’. Oleh karenanya, Gould lalu menawarkan 3 langkah pengambilan keputusan sebagai berikut :
  1. Mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dari sebanyak mungkin sumber yang bisa kita lakukan, lalu
  2. Mempertimbangkan informasi itu tanpa penilaian dan emosi, serta
  3. Akhirnya membuat keputusan berdasarkan informasi itu.
Dengan 3 langkah ini, Gould menegaskan bahwa kita jauh lebih mungkin membuat keputusan yang lebih baik dan dengan itu meningkatkan realitas kita serta orang-orang disekitar kita. Betapa tidak, dalam situasi sekarang kita cenderung mengambil keputusan secara tradisional, dengan selalu membuang sebagian besar waktu, energy dan usaha kita untuk menjustifikasi, membela, atau mengembangkan kesimpulan yang kita dapatkan, jarang mempertimbangkan hal lain kecuali seseorang menaikkan tanda pengumuman atau memukul kepala kita untuk mendapatkan perhatian. Kita sering sekali membuat keputusan mengenai bagaimana kita menghadapi keputusan pada akibat pertama, atau momen ketika kejadian itu pertama kali terjadi. Akibatnya adalah begitu kita telah menentukan pendapat kita terhadap sesuatu, akan kecil kemungkinan bagi kita untuk mengubahnya dan mungkin kita kan berusaha membelanya mati-matian daripada mengadaptasi pendekatan kita menurut bukti baru apapun yang dihadapkan pada kita.


Pesan penting Gould tentang ini adalah, bahwa ketika kita menerima menghadapi sebuah situasi, maka kita harus bekerja keras untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber tentang situasi tersebut, menganalisisnya dengan tidak melibatkan emosi dan perasaan kita, barulah kita mengambil apapun keputusan yang tepat sesuai dengan situasi itu. Waktu yang cukup saat kita menggali informasi barangkali dapat meredam emosi kita terhadap situasi yang kita alami, juga tentu dapat memberi kita pilihan berbeda dari yang pernah terpikirkan.


Dengan konsep Gould ini, pengambilan keputusan melanjutkan sekolah ke sekolah mana misalnya, dapat kita peta-kan sebagai berikut :


Mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dari sebanyak mungkin sumber yang bisa kita lakukan.
Orangtua dan atau anak harus mencari informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber tentang sekolah yang mau ditujuh. Mungkin orangtua punya beberapa alternatif. Dari beberapa alternatif sekolah tujuan inilah, digali informasi-informasi dari berbagai sumber. Sumber primernya adalah langsung ke sekolah sasaran dan mencari informasi dari pihak sekolah tersebut. Sumber sekundernya dapat diperoleh dari orangtua yang anaknya sedang atau pernah bersekolah di sekolah alternatif tadi. Informasi tersebut antara lain meliputi : status sekolah (kalau swasta), kompetensi guru, biaya sekolah dan biaya-biaya lain, jumlah siswa maksimal per kelas, fasilitas, kegiatan ekstrakurikuler, keunggulan-keunggulan sekolah, dan sebagainya.


Mempertimbangkan informasi itu tanpa penilaian dan emosi.
Setelah berbagai informasi dari berbagai sumber kita peroleh, maka semua informasi tersebut disusun dalam kaidah atau pola tertentu, dapat dibuat dalam sebuah tabel, hal mana kita dari sana kita dapat membaca kelebihan dan kelemahan masing-masing sekolah tersebut. Dalam menyusun dan menganalis data tersebut, hindari penilaian-penilaian subjektif dan. tidak menyertakan emosi. Artinya data-data tersebut dianalisis secara objektif, berdasarkan apa adanya data tersebut terbaca.


Akhirnya membuat keputusan berdasarkan informasi itu.
Setelah data dianalisis, ditimbang-timbang, lalu ambil keputusan berdasarkan kesimpulan dari analisis kita.
Sepintas lalu, mungkin terlalu ribet, repot atau rumit. Tetapi tentunya tidak salah bila kita mulai mencoba melakukan ini. Mungkin ada yang beranggapan bahwa memilih sekolah bagi sang anak adalah hal yang kecil, tidak memerlukan prosedur yang berbelit-belit. Tetapi percayalah kawan, ketika kita terbiasa mengambil keputusan secara cerdas dengan terlebih dahulu mengumpulkan data dan menganalisa data dan informasi terkaita dengan sebuah keputusan, maka pada masa-masa mendatang kehidupan dan cara berpikir kita akan mengalami transformasi dan berujung pada kemudahan yang kita temukan kala menghadapi sebuah situasi pengambilan keputusan sebesar apapun konteksnya.


Diplomasi Diam atau Nol Respon
Dalam konteks lain pada kehidupan kita, tidak jarang sebuah situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan kadang dilalui tanpa keputusan apa-apa, yang justru bagi saya dalam arti tertentu, situasi tanpa keputusan itu adalah juga sebuah keputusan. Jumat kemarin saya berdiskusi secara online dengan seorang sahabat di negeri Kanguru. Tema diskusi kami adalah “diplomasi diam”, demikian istilah kawan saya. Diplomasi diam disini lebih dimaknai sebagai sebuah situasi tanpa respon atau dalam konsep yang pernah saya tawarkan kepada “sepasang suami istri bermasalah” dengan istilah “nol respon”.  Gambarannya begini, kadang-kadang kita memerlukan “diplomasi diam” atau “nol respon” terhadap stimulus tertentu yang datang dalam kehidupan kita di suatu masa. Pada contoh saya, adalah sepasang suami istri yang menghadapi krisis rumah tangga yang sudah parah. Berbagai jalan sudah ditempuh, berbagai pihak sudah dilibatkan – langsung, maupun tidak langsung, tetapi tetap saja “mereka bermasalah”. Bertahun-tahun mereka hidup dalam perdebatan-pertengkaran-peperangan bahkan beberapa kali hendak melakukan upaya perceraian. Setiap masukan atau konklusi dari saya, hanya di-iya-kan di depan saya, tetapi tidak pernah dipraktekkan atau kalaupun dipraktekkan hanya dengan setengah hati. Situasi ini berlangsung cukup lama, beberapa tahun malah. Sebagai manusia, saya juga sudah lelah menghadapi mereka dan mereka juga sudah lelah bertengkar secara fisik walau semangat bertengkarnya tetap ada kelihatannya. Pokoknya pantang dipancing sikitlah, kata orang Medan. Bila satu pihak melakukan satu hal kecil saja yang tidak sesuai dengan kehendak pihak yang lain, maka pihak yang lain tersebut akan melahirkan respon yang sangat agresif bahkan cenderung destruktif. Dalam situasi inilah, akhirnya saya menawarkan gencatan senjata dengan konsep ‘nol respon’. Siapa melakukan apapun, dimanapun dan dengan siapapun, pihak yang lain tidak boleh memberi respon sekecil apapun. Agak ekstrim memang konklusi ini. Tapi barangkali cocok dengan orang-orang yang memiliki mindset dan perilaku ekstrim seperti mereka. Bagi saya, ‘diplomasi diam’ atau ‘nol respon’ juga merupakan sebuah cara mengambil keputusan.


Pada kasus yang lain, adalah seorang kawan yang selalu memainkan “diplomasi diam”.  Separah apapun situasi yang dialami oleh lembaga yang pimpinnya, saat para anak buah sudah menjerit-jerit, mungkin ada yang mulai menangis sebab barangkali alamatlah kapal akan tenggelam, dia di singgasananya sana tetap aja slow, tenang dan diam atau mungkin senyam-senyum. Diplomasi diam cenderung dilakoni orang-orang dengan tipe kinestetik, orang-orang perasa. Diplomasi diam pada situasi tertentu mungkin efektif, perlu renungan dan refleksi mendalam untuk sebuah langkah atau keputusan, akan tetapi pada situasi dimana anak buah butuh bimbingan, arahan dan penegasan, diplomasi diam justru membahayakan organisasi, seperti yang akhirnya di alami kawan saya tersebut.


Neurosains dan Pengambilan Keputusan.
Dr. Taufik Pasiak dalam bukunya, “Tuhan Dalam Otak Manusia” mengatakan bahwa kemampuan mengambil keputusan merupakan fungsi penting otak manusia didasarkan pada studi pada orang-orang yang mengalami cedera otak di daerah cortex prefrontalis ventromedialis (CPFVM). Bagian otak yang terletak persis dibelakang hidung ini diketahui berperan penting dalam pengambilan keputusan. Bagian ini mengelola hal-hal yang bisa terjadi pada masa mendatang, meskipun belum pasti, serta hubungan diantara semua hal tersebut dan memilah-milah informasi yang banyak untuk ditandai sebagai hal yang membutuhkan perhatian. Mereka yang cedera CPFVM merupakan orang-orang yang rasional. Mereka bisa pintar dan sangat terampil, tetapi tidak cerdas membuat keputusan. Lebih lanjut Pasiak mengatakan, bahwa mengambil keputusan memiliki dasar evolusi yang kuat. Manusia memiliki ‘komputer’ bawah sadar yang dapat mengarahkannya untuk dapat mengambil keputusan secara cepat. Intuisi ataupun suara hati, menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan yang cepat. Misalnya ketika kita berada ditengah jalan, dan melihat sebuah mobil melaju cepat ke arah kita, maka kita tidak membutuhkan alur pikir analitis untuk menilai apakah mobil tersebut akan tepat menabrak kita, apakah mungkin kita dapat menghindar, atau apakah kecepatan mobil tersebut dapat menghancurkan atau sekedar melecetkan tubuh kita. Jika menghadapi situasi ini dan otak kita berpikir secara analitis, maka bisa dibayangkan apa yang terjadi. Menghadapi situasi dimana kita harus mengambil sebuah keputusan, otak menyediakan komponen fungsional yang oleh Malcom Gladwell disebut adaptive unconscious. Komponen fungsional ini membimbing kita untuk mengambil keputusan secara cepat yang membuat kita terhindar dari bahaya. Dalam adaptive unconscious ini tersimpan pengalaman masa lalu kita, yang berhubungan dengan sebuah stimulus tertentu, misalnya mobil yang melaju kencang tadi. Pengambilan keputusan adalah fungsi eksekutif dari otak yang terbilang canggih pada manusia dan menjadi unggulan manusia dibandingkan dengan segenap makhluk lainnya.


Dari uraian diatas, maka tatkala langkah transformatif-nya Gould kita baca dalam kaca mata neurosains, akan terlihat menjadi lebih pas. Sederhananya kira-kira begiini. Saat kita mengumpulkan berbagai informasi, mengolah dan menganalisanya, maka secara faal proses yang terjadi adalah kita mengirim informasi-informasi tersebut ke otak, yang akan melalui bermiliaran neuron (sel khusus otak) yang terkoneksi satu sama lain, ketika kita butuh sebuah keputusan, informasi tersebut kemudian masuk pada area tertentu di otak, CPFVM, lalu berakumulasi dengan berbagai informasi terkait lainnya yang sudah ada disana terlebih dahulu, kemudian lahirlah sebuah keputusan. Proses pengambilan keputusan tidak saja sebuah proses yang secara visual bisa kita amati dalam sebuah tindakan (konatif) tetapi terlebih dahulu diawali dengan sebuah proses kognitif di otak kita. Dalam arti tertentu, bisa dikatakan bahwa ketika kita membiasakan diri melakukan pengambilan keputusan dengan melibatkan aspek kognitif kita, misalnya dengan menerapkan konsep Gould, maka sebenarnya kita juga sedang membiasakan otak kita untuk bekerja, kita juga sedang mengaktifkan koneksitas jaringan-jaringan otak yang kemudian dapat membentuk synaps (jaringan yang terbentuk antar neuron setiap sebuah informasi lewat) baru, yang menurut para ahli neurologi memiliki kontribusi dalam peningkatan kinerja otak!


Epilog
Sahabat, kayaknya catatan ini sudah mulai panjang dan sebelum menjadi kepanjangan, saya hanya mau berpesan, dalam situasi apapun yang kita hadapi dimana kita harus mengambil sebuah keputusan, ambillah keputusan itu secara cerdas. Ada banyak cara cerdas mengambil keputusan, tetapi kebetulan disini saya hanya menawarkan konsep Gould, yang sebenarnya sangat sederhana atau mungkin sering kita lakukan secara tidak sadar atau tanpa tahu konsepnya secara optimal, yang juga selaras atau beda-beda tipis dengan konsep”Situation Awareness” atau konsep kesadaran atas situasi yang kita hadapi, yang dapat menjadi landasan bagi seseorang dalam mengambil sebuah keputusan. Atau bisa juga menggunakan konsep "Diplomasi Diam" atau "Nol Respon". Lepas dari semua itu, yang penting diingat, adalah baik sekali bila sebuah keputusan diambil berdasarkan proses kognitif sebagaimana uraian diatas, bukan karena hasutan, rayuan, bujukan, bisikan atau pun intrik-intrik tertentu dengan kepentingan-kepentingan terselubung. Akhirnya, selamat mengambil keputusan dalam hidupmu! Semoga catatan kecil ini bermanfaat. Salam Joss…

29 Mei, 2012

SEBERKAS CERITA FUNTASTIC LEARNING

Teman-teman yang baik, dibawah ini saya persembahkan seberkas cerita yang dibuat para siswa SD yang pernah belajar Funtastic Learning bersama saya. Melalui pelatihan ini, setiap siswa dilatih untuk mendalami, menggumuli dan mempelajari 3 Nilai Positif (I Can, I Will dan I Do), yang mampu memberdayakan siswa untuk mencapai mimpi, cita-cita atau prestasi belajar yang didambakan.

Dan cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari nilai I Do yang dipelajari, khususnya tentang bagaimana cara para siswa untuk menghafalkan pelajaran atau sederetan kata dengan cara mengemasnya dalam sebuah cerita. Tentu saja ada syarat dan cara membuat cerita-cerita tersebut, sehingga kata-kata/pelajaran yang ingin dihafal akan lebih cepat dihafal dan sekali dihafalkan akan langsung tersimpan permanen pada long term memory (memori jangka panjang) setiap siswa. Ini hanyalaha salah satu cara dari nilai I Do dan sudah pasti masih banyak lagi cara lain.

Anda penasaran? Untuk sementara perhatikan saja kata-kata yang dicetak miring dalam cerita dibawah ini dan anda dapat menemukan polanya. Namun bila ingin mengetahui lebih banyak teknik Funtastic Learning dengan berbagai metode pembelajaran yang unik, menarik, menyenangkan dan sungguh ramah otak serta selaras dengan potensi pikiran anda atau anak anda, maka segera hubungi saya.

Sekarang, mari kita nikmati seberkas cerita dibawah ini. Semoga bermanfaat!

M. Alfaridzie Yoandari :
Ada pohon yang giginya tumbuh tembakau. Pohon itu berada ditengah laut, mereka melihat si pipa dan jagung sedang berpacaran sampai hati mereka berteratai-teratai. Mereka menaiki mobil dan memakai sabuk. Jagung sambil menghitung uang menggunakan kalkulator untuk membeli pistol untuk menyerang pabrik pepsodent. Belalang yang sedang memakai dasi terkejut dengan hal tersebut. Belalang mengirimkan roket untuk melawan mereka, malah roketnya jatuh ke parit hingga berlumut. Seruling memanggil bayam untuk meminta bantuan. Ternyata bayam sedang keluar rumah untuk membeli boneka.

Diky Diwo Suwanto :
Bayangkan pohon anda sedang marah. Kemudian ia memarahi tembakau, lalu tembakau lari ke laut. Di laut terdapat pipa yang sedang mengejar jagung yang tidak punya hati. Kemudian jagung membunuh teratai. Kemudian jagung lari ke mobil dan memakai sabuk pengaman. Kemudian kalkulator menangkapnya dan menembaknya dengan sebuah pistol. Si jagung menghindar dan tembakau itu mengenai pepsodent. Kemudian pepsodent itu mencrot dan mengenai belalang yang sedang memakai dasi. Belalang marah-marah dan ia  lompat ke atas roket dan membalasnya dengan menabraknya memakai roket tersebut. Si kalkulator menghindar dan mengenai lumut yang sedang bermain seruling dan bayam yang sedang bermain boneka.

Roffif Aldy :
Ada pohon mempunyai tangan. Ditangannya ada tembakau. Pohon itu disebelah laut. Di dalam laut itu ada pipa yang di dalamnya ada jagung. Jagung itu sedang memakan hati di dekat teratai. Teratai tersebut memakai sabuk dan kalkulator  mengeluarkan tangan untuk memegang pistol. Ketika menembak pistol itu mengeluarkan pepsodent. Ternyata ada belalang yang sedang memakai dasi terkena tembakan pistol tersebut, dan belalang yang memakai dasi tersebut mengeluarkan tangannya dan menembakkan roket yang berlumut ke arah pistol tersebut dan ada seruling yang memakan bayam dekat boneka.

Raka Fiqri Andrean :
Bayangkan pohon anda di matanya tumbuh tembakau dan di mulutnya ada laut, dan di lehernya pipa untuk menyiram jagung. Dan jagung punya hati yang di atas teratai dan teratai memakai sabuk. Sabuk menghitung dengan kalkulator. Kalkulator punya pistol yang di dalamnya berisi pepsodent dan belalang memakai dasi mempunyai roket dan roket itu ada lumut. Lumut itu sedang memainkan seruling dan bayam memainkan boneka.

Olivia Sukma Zein :
Bayangkan pohon mempunyai 3 mata. Di mata pohon ada tembakau. Sisa tembakau dibuang ke laut dan terdapat pipa di pinggir laut dan sampah jagung. Kita pun harus hati-hati membawa teratai, sabuk pun menghitung dengan kalkulator berapa jumlah pistol dan pepsodent. Belalang pun terbang memakai dasi dan mengenai roket. Roket pun menghindar dan ternyata terkena lumut. Lumut pun bermain seruling dengan judul bayam. Boneka pun tertawa mendengarkannya.

By : Alviola Zhafirah
Bayangkan pohon mempunyai kaki dan tangan. Mengangkat tumbuhan tembakau dan melemparkannya ke laut mengenai pipa, pipanya sedang memakan jagung. Jagung itu mempunyai hati, di dekat hatinya ada tumbuhan teratai, teratai itu memakai sabuk. Sabuk mempunyai teman yang jahat namanya kalkultor. Kalkultor itu pun mengambil pistol untuk menembak sabuk. Tembakannya mengenai pepsodent. Pepsodent pun memanggil belalang untuk membalasnya. Rupanya belalang memanggil dasi. Dasi sedang terbang bersama roket. Roket pun menabrak lumut. Lumut itu sedang memainkan seruling, lumut itu pun marah dan menelpon si bayam, rupanya si bayam  sedang keluar untuk membeli boneka.

Shelly Natania Sipayung :
Ada sebuah pohon berbulu mata tembakau yang berada di laut. Diseberang laut, terdapat pipa yang berada di laut. Di seberang laut terdapat pipa yang berada di samping jagung. Pipa menyukai jagung, tapi sayang ternyata jagung jatuh hati kepada teratai. Teratai memiliki sabuk pengaman di dekat kalkulator. Lalu kalkulator melemparkan pistol kepada musuhnya pepsodent. Akan tetapi pistol itu mengenai belalang hingga belalang menangis. Lalu belalang berusaha menghapus air matanya dengan dasi. Lalu belalang memutuskan untuk meninggalkan negaranya dengan roket. Setelah 5 tahun kemudian, roket itu berlumut. Belalang pun mencari hiburan dengan seruling, dan mencari makanan bayam. Belalang tidak mempunyai teman selain boneka yang didapatnya dari sahabatnya.

Christian David :
Ada sebuah pohon tembakau disekitar laut. Pipa melihat si jagung yang mempunyai hati. Disekitarnya ada sebuah teratai yang besar. Ia pun berencana  membeli sebuah barang. Lalu ia pun mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman dan ia pun memakai kalkulator untuk menghitung duit yang dimilikinya agar dapat membeli sebuah pistol. Lalu ia coba membuka pepsodent, setelah berhasil pepsodent tersebut tutupnya terkena belalang yang berdasi. Lalu belalang tersebut membalas dengan roket yang berlumut. Pipa pun menangkis dengan seruling yang dimilikinya. Mungkin ia lapar lalu dia memakan bayam lalu ia bermain sebuah boneka.

Demikian cerita mereka...Salam Joss!

18 April, 2012

GAYA BELAJAR VISUAL

Modalitas dan gaya belajar ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun yang diingat. Warna, hubungan, ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Berikut adalah cirri modalitas gaya belajar visual :  

Fisiologi :
  • Gerakan bola mata ke atas
  • Bernapas dengan pernapasan dada
  • Nada suara tinggi
  • Napas pendek/dangkal dan cepat
  • Mengakses informasi dengan melihat ke atas
  • Tempo bicara cepat
  • Pandangan muka ke atas
  • Tangan bergerak di atas dada
  • Postur atas dan tegak
  • Kata-kata yang sering dipakai oleh orang visual adalah “melihat, memandang, menonton, fokus”.
  • Bahasa yang digunakan, misalnya “Saya dapat melihat maksud anda”, “Ini kelihatannya bagus”, “Dapatkah anda bayangkan?”, “Hal ini tampaknya cukup rumit”, “Saya mendapatkan gambarannya” atau “Kelihatannya benar”.
  • Teratur memperhatikan segala sesuatu dan menajga penampilan.
  • Dalam keadaan santai, mereka biasanya lebih menyukai kegiatan menonton film, video, pergi ke bioskop atau membaca buku.
  • Dalam berkomunikasi, mereka senang berbicara dengan tatap muka.
  • Suka memperhatikan gerak-gerik lawan bicara.
  • Bicara cepat, berapi-api melalui gambar yang ada dalam bayangannya, kurang menyukai dalam hal mendengar orang lain berbicara.
  • Kebanyakan mereka melupakan nama orang yang ditemui, tetapi ingat pada wajahnya.
  • Ketika sedang tidak ada kegiatan, mereka senang mengamati sesuatu atau seseorang.
  • Berpenampilan rapi dan bersih.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai dengan orang visual adalah konseptor, perencana dan arsitektur.

Karakteristik :

  • Kata-kata yang sering dipakai oleh orang visual adalah “melihat, memandang, menonton, fokus”.
  • Bahasa yang digunakan, misalnya “Saya dapat melihat maksud anda”, “Ini kelihatannya bagus”, “Dapatkah anda bayangkan?”, “Hal ini tampaknya cukup rumit”, “Saya mendapatkan gambarannya” atau “Kelihatannya benar”.
  • Teratur memperhatikan segala sesuatu dan menajga penampilan.
  • Dalam keadaan santai, mereka biasanya lebih menyukai kegiatan menonton film, video, pergi ke bioskop atau membaca buku.
  • Dalam berkomunikasi, mereka senang berbicara dengan tatap muka.
  • Suka memperhatikan gerak-gerik lawan bicara.
  • Bicara cepat, berapi-api melalui gambar yang ada dalam bayangannya, kurang menyukai dalam hal mendengar orang lain berbicara.
  • Kebanyakan mereka melupakan nama orang yang ditemui, tetapi ingat pada wajahnya.
  • Ketika sedang tidak ada kegiatan, mereka senang mengamati sesuatu atau seseorang.
  • Berpenampilan rapi dan bersih.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai dengan orang visual adalah konseptor, perencana dan arsitektur.

Strategi Mengajar
  • Menggunakan media kerts tulis dengan tulisan atau tinta berwarna daripada papan tulis.
  • Mendorong siswa untuk menggambarkan informasi dengan menggunakan diagram dan warna.
  • Beri kode warna untuk bahan pelajaran dan sebaiknya dorong siswa untuk mencatat aneka warna.
  • Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan.
  • Membutuhkan gambaran, tujuan menyeluruh, menagkap detail dan mengingat apa yang dilihat.
  • Suka membuat coretan-coretan.
  • Gerakan tubuh/body languange
  • Buku, majalah
  • Grafik, diagram
  • Peta pikiran/mind maping
  • Visualisasi
  • OHP/LCD Projector
  • Poster/leaflet
  • Flow chart
  • Highlighting (memberi warna pada bagian yang dianggap penting)
  • Kata-kata kunci yang dipajang disekeliling kelas
  • Tulisan dengan warna yang menarik
  • Model/peralatan.

GAYA BELAJAR AUDITORI

Gaya belajar  ini mengakses segala bunyi dan kata. Musik, nada irama, rima, dialog internal dan suara menonjol. Berikut ciri modalitas gaya belajar auditori :  

Fisiologi
  • Gerakan bola mata sejajar telinga.
  • Napas merata di daerah diagfragma.
  • Suara jelas dan kuat, sedang, mengalun dan memiliki ritme.
  • Bicara sedikit lebih lambat dari orang visual.
  • Mengakses in formasi dengan menengadakan kepala.
  • Pandangan muka ke depan.
  • Postur tubuhnya datar seimbang.
  • Peka akan fungsi pendengarannya.
   
Karakateristik
  • Perhatian mudah terpecah.
  • Berbicara dengan pola berirama.
  • Belajar dengan cara mendengarkan.
  • Ketika membaca suka menggerakkan bibir atau bersuara.
  • Berdialog secar internal dan eksternal.
  • Berpartisipasi dalam diskusi dan debat.
  • Membaca teks dengan suara keras.
  • Menciptakan music jingle untuk meningkatkan daya ingat.
  • Kata-kata yangs erring dipakai orang auditori, yaitu mendengar, melengking, tersedu, gembira, meliuk-liuk.
  • Kalimat yang digunakan misalnya, “Saya mendengar apa yang kamu katakan”, “Ini masih kurang terdengar dengan jelas”, “Hal itu terdengar menarik”, “Suaranya melengking dan nyaring”.
  • Dalam keadaan santai, mereka biasanya lebih menyukai mendengarkan musik.
  • Biasanya agak kurang memperhatikan laan bicaranya, dia hanya mendengar suara lawan bicaranya. Oleh karena itu mereka lebih senang berbicara melalui telpon.
  • Mereka sangat menikmati pembicaraan dengan orang lain.
  • Kebanyakan mereka melupakan wajah orang yang ditemui, tetapi mengingat namanya.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai untuk orang auditori adalah pembawa acara, presenter, pembicara dan penyanyi.
   
Strategi Mengajar
  • Suara yang jelas dengan intonasi yang terarah dan bertenaga.
  • Gunakan variai vocal (perubahan nada, kecepatan dan volume).
  • Gunakan pengulangan dan mintalah siswa menyebutkan kembali konsep pelajaran.
  • Gunakan musik sebagai aba-aba untuk memulai kegiatan rutin.
  • Membaca dengan keras
  • Menggunakan pembicara tamu
  • Sesi tanya jawab
  • Rekaman ceramah/kuliah
  • Diskusi dengan teman
  • Belajar dengan mendengarkan atau menyampaikan informasi
  • Kuliah
  • Permainan peran (role play)
  • Teknik Mnemonics
  • Musik
  • Kerja kelompok.

GAYA BELAJAR KINESTETIK

Modalitas atau gaya belajar kinestetik mengakses segala jenis gerak dan emosi. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional dan kenyamanan fisik menonjol. Berikut ciri modalitas gaya belajar kinestetik :  

Fisiologis
  • Gerakan bola mata kearah bawah.
  • Pernapasan perut dan dalam.
  • Suara cenderung berat, lambat, dalam dan ada jeda.
  • Banyak menggunakan gerakan/ bahasa tubuh.
  • Mengakses informasi sambil melihat ke bawah.
  • Postur tubuh cenderung ke bawah dan menunduk.

Karakteristik
  • Menyentuh orang yang berdiri berdekatan.
  • Belajar dengan melakukan.
  • Menunjuk tulisan saat membaca.
  • Kata-kata yang sering dipakai oleh orang kinestetik adalah merasa, halus atau kasar, berat atau ringan, menangani atau melangkah, mengingat sambil berjalan.
  • Kalimat yang biasanya digunakan misalnya, “Ini rasanya kurang pas”, “Ini rasanya masih kurang jelas”,  “Suasana di tempat ini terasa segar”.
  • Dalam berkomunikasi biasanya senang dengan melakukan sesuatu.
  • Dalamkeadaan santai mereka biasanya lebih menyukai games dan berolahraga.
  • Mereka berbicara agak lambat, lebih menggunakan bahasa tubuh, gesture dan ekspresi.
  • Dalam keadaan tidak ada kegiatan mereka cenderung gelisah.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai dengan orang kinestetik adalah pelukis, pemahat, koki dan atlit.

Strategi Mengajar
  • Keterlibatan fisik.
  • Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep.
  • Ciptakan simulasi konsep agar siswa mengalaminya.
  • Peragakan konsep sambil memberi kesempatan kepada siswa untuk mempelajari langkah demi langkah.
  • Ijinkan siswa berjalan-jalan di dalam kelas.
  • Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar dan doronglah siswa untuk mengalaminya.
  • Meniru adegan atau demonstrasi.
  • Field trip.
  • Membuat model.
  • Memainkan peran/skenario.
  • Highlighting.
  • Tick It.
  • Berjalan.
  • Membuat peta pikiran.
  • Berjalan-jalan ketika sedang membaca.
  • Menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu.

08 Desember, 2010

MEMINIMALISIR AGRESIFITAS DENGAN DENGAN PERUBAHAN TATA RUANG KERJA


“Ketika hidup tak lagi dihargai, jadilah pembela kehidupan. Ketika hidup tak lagi dimaknai, jadilah pembudaya kehidupan. Masih adakah keberanian untuk membela dan membudayakan hidup yang sudah rusak-rusakan ini ? Tanyalah pada hati nurani, yang menjadi dering pengingat kehidupan” (Anicetus Windarto).

Sepenggal puisi Anicetus Windarto diatas, bukannya tanpa alasan ketika saya letakkan pada tempat pertama dari tulisan ini. Betapa tidak, dewasa ini hidup dan kehidupan segenap makhluk termasuk alam semesta sudah terancam eksistensinya, ditandai dengan semakin akrabnya kita dengan segala hal yang berbau agresi, apakah itu lewat tontonan mata telanjang secara langsung, maupun sajian televisi. Apakah lewat berita di media cetak, ataukah propaganda advertising. Apakah itu dilakukan secara personal, maupun yang dilakukan secara struktural oleh oleh tiga poros kehidupan, yaitu poros masyarakat warga, poros pasar maupun poros negara. 

02 Desember, 2010

DEFENITION OF HYPNOSIS FROM DIVISION 30 AMERICAN PSYCHOLOGICAL ASSOCIATION (APA)

Hypnosis typically involves an introduction to the procedure during which the subject is told that suggestions for imaginative experiences will be presented. The hypnotic induction is an extended initial suggestion for using one’s imagination, and may contain further elaborations of the introduction. A hypnotic procedure is used to encourage and evaluate responses to suggestions. When using hypnosis, one person (the subject) is guided by another (the hypnotist) to respond to suggestions for changes in subjective experience, alterations in perception, sensation, emotion, thought or behavior. Persons can also learn self-hypnosis, which is the act of administering hypnotic procedures on one’s own. If the subject responds to hypnotic suggestions, it is generally inferred that hypnosis has been induced. Many believe that hypnotic responses and experiences are characteristic of a hypnotic state. While some think that it is not necessary to use the word “hypnosis” as part of the hypnotic induction, others view it as essential. 

30 November, 2010

SELAYANG PANDANG KELOMPOK DAN DINAMIKA KELOMPOK



 
Tentang Kelompok
Sekarang saya akan menguraikan beberapa hal tentang kelompok. Tetapi ijinkan saya terlebih dahulu sedikit berbagi kesan saya tentang kota Medan, kota dimana saat ini saya berdomisili bersama istri dan anak-anak tercinta. Kesan saya yang membekas sejak pertama kali menjejakkan kaki di kota Medan sampai menetap hingga sekarang dan bahkan menikah dengan orang Medan dari suku Batak, kota ini kaya dengan kelompok/komunitas/organisasi. Segala macam organisasi dengan berbagai latar belakang dan tujuan, bisa anda temukan dikota ini. Mulai dari sekedar “STM” (Serikat Tolong Menolong), sebagai wadah kerjasama sosial antar warga yang tinggal berdekatan dalam acara-acara kemalangan dan perkawinan sampai dengan “Punguan (kumpulan) Marga” dengan skop nasional. Mulai dari organisasi yang berbasiskan cinta kasih sampai dengan organisasi yang akrab dengan kekerasan. Mulai dari “Persatuan Abang Becak Sumatera Utara” sampai dengan kumpulan profesi intelektual tertentu. 

21 November, 2010

MENGUNGKAP BAHASA TUBUH

Keterangan :
VC        = visual constructur
AC        = audio constructur
KC        = kinesthetic constructur
VM        = visual memory
AM        = audio memory
KM        = kinesthetic memory

Tulisan ini merupakan lanjutan dari catatan saya terdahulu yang berjudul     :             "MENCERMATI PERANAN SEORANG FASILITATOR". Pada uraian saya dalam catatan tersebut, dari berbagai pendapat tentang peran fasilitator, tampak ada kesamaan penegasan khususnya tentang bahasa tubuh. Dalam komunikasi dengan orang lain kita menggunakan bahasa verbal dan bahasa non verbal (bahasa tubuh). Yang penting kita cermati, kenyataan menunjukkan bahwa justru bahasa tubuh ini memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada bahasa verbal (kata-kata). Secara ilmiah hal ini telah diteliti oleh Albert Mehrabian, seorang psikolog dari Amerika, dan hasil penelitiannya menunjukkan peran bahasa non verbal sangat besar dalam komunikasi yaitu sebanyak 93 % yang terdiri dari bahasa tubuh 55 % dan intonasi    38 %, sementara kata- kata (verbal) hanya memiliki pengaruh sebanyak 7 %.   

16 November, 2010

MENCERMATI PERANAN SEORANG FASILITATOR


Berikut saya coba uraikan beberapa catatan saya terkait dengan peranan seorang fasilitator dalam sebuah pelatihan pengembangan SDM, khususnya yang pelatihan dinamika kelompok atau outbound dan sejenisnya. Secara umum keberhasilan sebuah pelatihan bertajuk dinamika kelompok, ditentukan oleh banyak faktor, antara lain persiapan, materi yang disajikan, waktu pelaksanaan, lokasi, situasi dan kondisi lingkungan, sarana dan prasarana, konsumsi, dan yang tidak kalah penting adalah peran seorang fasilitator, yang oleh sebagian orang disebut dengan trainer, instruktur atau pemimpin kegiatan. Saya lebih suka dengan istilah fasilitator, tetapi istilah bukan masalah tentunya. Dibawah ini, saya akan banyak menguraikan peranan seorang fasilitator, yang dihimpun dari berbagai sumber ataupun penulis buku. Kalau anda seorang trainer, perhatikan tugas trainer dan prinsip training seperti dibawah ini.  

12 November, 2010

FENOMENA HYPNOSIS


Pikiran Sadar dan Pikiran Bawah Sadar


 Secara umum kita mengenal dua jenis pikiran, yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Hal ini perlu saya uraikan terlebih dahulu, karena dalam hypnosis kita akan banyak bermain atau melakukan penerobosan ke pikiran bawah sadar seseorang. Deikman (dalam Atkinson, 2005) menjelaskan hal ini. Menurutnya terdapat dua jenis kesadaran, yaitu : kesadaran pasif, dimana seseorang bersikap menerima apa yang terjadi pada saat itu dan kesadaran aktif, yang menitikberatkan pada inisiatif dan mencari, atau merencanakan berbagai kemungkinan dimasa depan. Pikiran bergerak melalui kedua jalur kesadaran ini dan di dalam kedua jalur ini pula alur berpikir sangat dekat dengan kesadaran. 

08 November, 2010

OUTBOUND AMPUN-AMPUNAN


Seorang sahabat mengirimkan pesan pendek yang urusannnya bisa menjadi panjang. Pesannya, apakah  saya bisa memberi inspirasi suatu outbound dengan teaching point "pengampunan?" nah pendek khan pesannya. Tetapi mengapa bisa menjadi panjang urusannya? Karena "pesanan" tersebut unik sekaligus menantang. Pesanan yang sudah sangat jamak misalnya Outbound ber"teaching point" kepemimpinan atau teamwork, demikian juga jika untuk menjalin persatuan dan kesatuan, tapi "pengampunan" ya ampuuunnn. Untunglah beberapa hari saya mencari inspirasi, ada yang nyangkut di kepala ini, hal yang membuat urusan menjadi pendek sekarang. Apa artinya itu? Artinya yha saya akan jelaskan seperti apa gerangan outbound pengampunan itu, jelas? Lha jelas dari mana, wong penjelasannya saja belum diberikan, Ow ow…

MENGGUNAKAN KEKUATAN PIKIRAN BAWAH SADAR UNTUK MEMILIH PELUANG KERJA



"Selamat ! Anda beruntung telah memilih untuk membaca catatan ini !"
Dalam kehidupan sehari-hari, pada setiap desahan napas dan derap langkah seringkali kita dihadapkan pada banyak pilihan. Sampai-sampai ada orang yang mengatakan bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah pilihan. Apapun pilihan hidup kita atau apapun yang kita pilih dari berbagai alternatif pilihan yang berserakan dihadapan kita atau bahkan yang disuguhkan dengan manis dihadapan kita, sejatinya kita berani menentukan pilihan dan berani bertanggung jawab secara dewasa atas setiap konsekuensi dari pilihan itu, termasuk diadalamnya dengan ikhlas menerima resiko terburuk dari setiap pilihan itu, yang kadangkala seperti mengunyah dan menelan empedu, bisa jadi juga pilihan kita menggoreskan sembilu dihati kita, dan tidak jarang pilihan kita berdampak buruk tidak hanya pada kita, tetapi juga pada keluarga maupun lingkungan dimana kita berada. Kalau sekedar berani memilih diantara banyak pilihan, barangkali kita dapat melakukannya dengan gagah. Tetapi justru yang sering kita alami adalah kita bingung dan sulit menentukan pilihan, bisa jadi karena kita belum memiliki cara memilih yang tepat atau bahkan kita belum memiliki cukup informasi tentang pilihan kita. 


TIDUR, MIMPI DAN BAWAH SADAR, APA HUBUNGANNYA ?


Banyak diantara kita yang seringkali penasaran dengan mimpinya sendiri, lalu berusaha kesana dan kemari mencoba mencari apa makna yang terkandung dibalik mimpi. Tetapi ada juga yang bersikap biasa-biasa saja walau sebenarnya dalam tidur malamnya dia telah memimpikan sesuatu yang 'luar biasa'. Ada yang berkomentar, "Akh, apalah artinya sebuah mimpi? Mimpi kan hanyalah sekedar bunga tidur!" Catatan ini tak hendak mengurai makna mimpi, tetapi sekedar mencoba menjawab pertanyaan seorang sahabat (Elida Fitri) di forum diskusi group Komunitas Bawah Sadar, tentang bagaimana sebenarnya mekanisme mimpi, atau secara sederhana bagaimana mimpi itu terjadi saat seseorang sedang tidur serta apakah mimpi itu terjadi karena alam pikir kita yang tak terlampiaskan. Saya bukanlah seorang penafsir mimpi, maka barangkali dalam catatan ini saya hanya sekedar membagi apa yang saya pahami secara scientific tentang tidur, mimpi dan bawah sadar, sejauh proses pembelajaran saya.

GAME 9 TITIK DAN AKSI PERAMPOKAN


Membaca judul tulisan ini, mungkin yang pertama kali muncul dalam pikiran anda adalah, apa pula hubungan antara sebuah  game atau permainan dengan peristiwa perampokan. Tulisan ini tak hendak mencari hubungan ataupun pengaruh secara statistik antara sebuah jenis permainan dengan berbagai aksi perampokan yang sedang marak di tanah air, juga bukan untuk mengurai secara detail bagaimana proses kognitif yang terjadi dalam diri para perampok sehingga mereka dapat melakukan sebuah perampokan, tetapi tulisan kecil ini hanya ingin menyajikan perspektif lain dari peristiwa perampokan dan bagaimana penulis melihatnya melalui kacamata satu jenis permainan kreatifitas. Tetapi sebelumnya, baik juga jika cermati beberapa data terkait berbagai peristiwa perampokan tersebut. Minggu-minggu terakhir ini, berbagai media secara aktif mengangkat dan memberitakan berbagai peristiwa perampokan ditanah air. 

PERMAINAN, SEBUAH BENTUK PENDIDIKAN KARAKTER



Dalam rangka Upgrading Personil Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Medan, (Sabtu, 7 Agustus 2010) saya mengikuti pelatihan menjadi fasilitator outbound dengan fasilitatornya seorang teman penulis buku "Merancang Outbound Training Profesional", Mas Agus (Agustinus Susanta). Mantap! Itulah kesan pertama saya saat mencermati lembaran-lembaran modul pelatihannya. Hari ini saya membaca salah satu kutipan favorit pada profilnya difacebook, "Manusia berhenti bermain bukan karena tua, namun manusia menjadi tua karena berhenti bermain".  Catatan kecil ini sebuah refleksi saya tentang permainan. Manusia memang homo ludens, makhluk yang senang bermain. Maka, ketika kita tawarkan sebuah permainan dalam situasi apapun, biasanya setiap orang akan memberikan respon yang positif. Bermain memanglah telah menjadi sebuah bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah dikembangkan manusia.