SELAMAT DATANG

Terima Kasih dan Selamat Datang di Bung Joss.

Ini adalah media pembelajar. Anda bisa belajar dan sekaligus anda juga bisa mengajar.

Itulah esensi sebuah semangat berbagi yang coba saya kembangkan di blog ini.

Akhirnya, semoga blog ini berarti bagi anda dan saya. Terima kasih.

Salam Joss....
Tampilkan postingan dengan label permainan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label permainan. Tampilkan semua postingan

29 Mei, 2013

HATI-HATI DENGAN FOBIA BALON

Beberapa waktu lalu, dalam dua gelombang pelatihan kepemimpinan yang kami fasilitasi, saat membawa materi 'Motivasi’, saya dan tim mengajak peserta untuk memainkan sebuah permainan meniup balon. Secara singkat gambaran prosedurnya begini : 1) Kepada semua peserta diberikan sebuah balon yang kempes dan masih baru tentunya; 2)Masing-masing peserta meniup balon tersebut sebesar-besarnya, bahkan sampai meletus. Biasanya ada peserta yang takut, maka fasilitator harus memotivasi supaya semua peserta mau  melakukannya dan membantu peserta untuk memecahkan balonnya. Seorang teman dari Palembang, Mas Agustinus Susanta, menambahkan catatan khusus untuk permainan ini, khususnya untuk mengurangi resiko kecelakaan, 1)disarankan saat meniup balon, posisi tangan melindungi bibir peniup, 2)posisi balon dijauhkan dari telinga peserta lain (jika niupnya rame-rame).

Dari proses ini, sebagian besar peserta berhasil meniup balon sampai pecah, sesuai petunjuknya yaitu meniup balon sebesar-sebesar dan harus sampai pecah. Maka terdengarlah bunyi letusan balon yang memenuhi seluruh ruangan. Tetapi ada juga peserta yang tidak bisa meniup balon sampai pecah. Ini terjadi karena peserta takut meniup balon. Bahkan ada yang sampai menangis dan terlihat sekali ketakutan menyelimuti seluruh dirinya, dan ada yang tidak mau memegang bahkan melihat balon. Bagi mereka yang sungguh-sungguh ketakutan ini, kami tidak memaksakan mereka harus meniup balon tersebut. Setelah semua balon peserta pecah, kecuali beberapa orang yang ketakutan tersebut, proses dilanjutkan dengan refleksi. Kepada peserta diajukan beberapa pertanyaan :
  1. Mengapa ada orang yang merasa senang/takut/sangat takut di saat melaksanakan permintaan fasilitator untuk meniup balon sampai pecah?
  2. Bagaimana perasaan anda di saat ada teman yang sudah berhasil meniup balonnya sampai pecah, sementara anda belum berhasil?
  3. Bagaimana perasaan anda setelah mampu meniup balon tersebut sampai pecah?
  4. Apa makna dari  permainan tersebut?
Sekarang coba kita lihat prosesnya. Saat kami membagi balon kepada para peserta, secara umum para peserta merasa geli, lucu dan ada yang tersenyum, ada juga yang mulai tertawa. Situasi sontak berubah, disaat kami meminta para peserta meniup balon-balon tersebut sampai pecah. Di dalam pikiran para peserta, mulailah bermunculan bayangan-bayangan yang kurang menyenangkan mulai dari kekurangmampuan meniup sampai suara letusan balon atau kemungkinan pecahan balon yang mengenai wajah. Secara umum, ketakutan yang dihadapi oleh kebanyakan orang ternyata menjadi sesuatu yang subjektif. Banyak orang yang pikirannya sudah dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk di dunia ini. Sejak bangun pagi kita sudah disuguhi dengan berbagai informasi yang menegangkan atau menakutkan dan membuat bulu kuduk kita berdiri. Pelajaran dari permainan ini penting diketahui, bahwa ketakutan itu tidak selamanya menakutkan. Jika setiap orang sadar akan hal itu, hidupnya akan menjadi termotivasi, akan menjadi lebih tenang, dan kenyamanan batin dapat dinikmati. Jika motivasi lebih kuat dari ketakutan, maka seseorang dapat menghadapi masalah dengan tenang dan pikiran jernih. Banyak ketakutan kita yang jauh dari realitas hidup. Jika demikian, apakah Anda akan tetap hidup dalam ketakutan?

Permainan ini memang berhasil dieksekusi dengan baik dan kemudian proses refleksinya juga baik adanya. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus, yaitu para peserta yang belum berhasil meniup balon tersebut sampai pecah. Bila ketakutan mereka hanyalah sekedar ‘ketakutan biasa’, yaitu takut dengan suara balon meletus yang keras atau takut pada pecahan balon yang akan mengenai wajahnya, setelah kita beri motivasi, kita ulangi petunjuk menghindari resiko bahkan kita beri contoh meniup balon sampai pecah secara benar, mereka akan berhasil melakukannya. Masalahnya – dan ini yang paling penting, setelah ditelusuri, rupanya para peserta yang tidak berhasil meniup balon sampai pecah tersebut memiliki ‘pengalaman tertentu’ di masa lalu dalam hidupnya yang berkaitan atau berhubungan dengan balon yang kemudian menimbulkan ketakutan bahkan fobia balon. Kepada peserta tersebut kami lalu memanggil mereka secara khusus dan memberi penanganan khusus juga. Atas kesediaan mereka, beberapa diantaranya diterapi dengan pendekatan hipnoterapi dan berhasil. Setelah proses terapi selesai, kepadanya diberikan balon lalu diminta melanjutkan tugasnya yang belum selesai dan mereka berhasil. Yang tadinya takut memegang bahkan melihat balon, jadi berani melihat, memegang dan bahkan meniup balon sampai pecah.

Pesan penting bagi para fasilitator dinamika kelompok dan sejenisnya, hati-hatilah dalam memandu permainan meniup balon sampai pecah, kecuali anda memiliki kemampuan mengatasi persoalan klinik trauma ataupun fobia balon. Bagi anda yang masih takut, trauma ataupun fobia pada balon dan fobia apa saja, silahkan hubungi Bung Joss. Semoga catatan kecil ini bermanfaat. Salam Joss….

21 November, 2010

MENGUNGKAP BAHASA TUBUH

Keterangan :
VC        = visual constructur
AC        = audio constructur
KC        = kinesthetic constructur
VM        = visual memory
AM        = audio memory
KM        = kinesthetic memory

Tulisan ini merupakan lanjutan dari catatan saya terdahulu yang berjudul     :             "MENCERMATI PERANAN SEORANG FASILITATOR". Pada uraian saya dalam catatan tersebut, dari berbagai pendapat tentang peran fasilitator, tampak ada kesamaan penegasan khususnya tentang bahasa tubuh. Dalam komunikasi dengan orang lain kita menggunakan bahasa verbal dan bahasa non verbal (bahasa tubuh). Yang penting kita cermati, kenyataan menunjukkan bahwa justru bahasa tubuh ini memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada bahasa verbal (kata-kata). Secara ilmiah hal ini telah diteliti oleh Albert Mehrabian, seorang psikolog dari Amerika, dan hasil penelitiannya menunjukkan peran bahasa non verbal sangat besar dalam komunikasi yaitu sebanyak 93 % yang terdiri dari bahasa tubuh 55 % dan intonasi    38 %, sementara kata- kata (verbal) hanya memiliki pengaruh sebanyak 7 %.   

08 November, 2010

GAME 9 TITIK DAN AKSI PERAMPOKAN


Membaca judul tulisan ini, mungkin yang pertama kali muncul dalam pikiran anda adalah, apa pula hubungan antara sebuah  game atau permainan dengan peristiwa perampokan. Tulisan ini tak hendak mencari hubungan ataupun pengaruh secara statistik antara sebuah jenis permainan dengan berbagai aksi perampokan yang sedang marak di tanah air, juga bukan untuk mengurai secara detail bagaimana proses kognitif yang terjadi dalam diri para perampok sehingga mereka dapat melakukan sebuah perampokan, tetapi tulisan kecil ini hanya ingin menyajikan perspektif lain dari peristiwa perampokan dan bagaimana penulis melihatnya melalui kacamata satu jenis permainan kreatifitas. Tetapi sebelumnya, baik juga jika cermati beberapa data terkait berbagai peristiwa perampokan tersebut. Minggu-minggu terakhir ini, berbagai media secara aktif mengangkat dan memberitakan berbagai peristiwa perampokan ditanah air. 

PERMAINAN, SEBUAH BENTUK PENDIDIKAN KARAKTER



Dalam rangka Upgrading Personil Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Medan, (Sabtu, 7 Agustus 2010) saya mengikuti pelatihan menjadi fasilitator outbound dengan fasilitatornya seorang teman penulis buku "Merancang Outbound Training Profesional", Mas Agus (Agustinus Susanta). Mantap! Itulah kesan pertama saya saat mencermati lembaran-lembaran modul pelatihannya. Hari ini saya membaca salah satu kutipan favorit pada profilnya difacebook, "Manusia berhenti bermain bukan karena tua, namun manusia menjadi tua karena berhenti bermain".  Catatan kecil ini sebuah refleksi saya tentang permainan. Manusia memang homo ludens, makhluk yang senang bermain. Maka, ketika kita tawarkan sebuah permainan dalam situasi apapun, biasanya setiap orang akan memberikan respon yang positif. Bermain memanglah telah menjadi sebuah bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah dikembangkan manusia.