“Ketika hidup tak lagi dihargai, jadilah pembela kehidupan. Ketika hidup tak lagi dimaknai, jadilah pembudaya kehidupan. Masih adakah keberanian untuk membela dan membudayakan hidup yang sudah rusak-rusakan ini ? Tanyalah pada hati nurani, yang menjadi dering pengingat kehidupan” (Anicetus Windarto).
Sepenggal puisi Anicetus Windarto diatas, bukannya tanpa alasan ketika saya letakkan pada tempat pertama dari tulisan ini. Betapa tidak, dewasa ini hidup dan kehidupan segenap makhluk termasuk alam semesta sudah terancam eksistensinya, ditandai dengan semakin akrabnya kita dengan segala hal yang berbau agresi, apakah itu lewat tontonan mata telanjang secara langsung, maupun sajian televisi. Apakah lewat berita di media cetak, ataukah propaganda advertising. Apakah itu dilakukan secara personal, maupun yang dilakukan secara struktural oleh oleh tiga poros kehidupan, yaitu poros masyarakat warga, poros pasar maupun poros negara.