SELAMAT DATANG

Terima Kasih dan Selamat Datang di Bung Joss.

Ini adalah media pembelajar. Anda bisa belajar dan sekaligus anda juga bisa mengajar.

Itulah esensi sebuah semangat berbagi yang coba saya kembangkan di blog ini.

Akhirnya, semoga blog ini berarti bagi anda dan saya. Terima kasih.

Salam Joss....

12 Juni, 2013

ADA APA DENGAN KELUARGA KITA

Sepekan terakhir ini, sungguh menjadi pekan refleksi bagi saya. Satu hal yang menarik, tema refleksinya adalah ‘Keluarga”.


Hari Sabtu yang lalu (25/05), datanglah mertua ke rumah saya, membawa seekor ikan mas yang telah dimasak (diarsik), yang ditata diatas nasi dalam sebuah nampan, lalu menyerahkan kepada kami (anak-menantu dan cucu-cucunya), dan kamipun menikmatinya. Singkat cerita, terjadilah acara makan bersama segenap keluarga. Dalam tradisi Batak, pemberian ikan mas dari pihak orangtua istri ini disebut boan-boan hula-hula (bawaan dari keluarga pihak istri). Pada saat menyerahkan boan-boan ini, mertua saya mengatakan bahwa ini adalah dengke sitio-tio (ikan yang jernihdan dengke simudurudur (ikan yang beriring-iringan berenang-renang hilir mudik). Tujuan pemberian nama ikan yang jernih adalah mendoakan kepada Tuhan agar segala hal yang berhubungan dengan pihak boru-nya (anak perempuannya beserta suami dan anak-anaknya) tetaplah jernih seperti air. Sementara tujuan pemberian nama ikan yang berenang beriring-iringan adalah agar dengan bantuan Tuhan pihak boru-nya tetap seia sekata sehati dalam segala hal, pekerjaan dan usaha menuju kebahagiaan dan kemakmuran.  Bagi saya yang kebetulan bukan orang Batak, boan-boan hula-hula ini sungguh sarat akan makna cinta dan penuh dengan doa restu, yang patut saya syukuri karena saya bisa menerimanya. Sebuah tradisi eksotik dan fantastik yang wajib dilestarikan, dalam hidup keluarga masa kini dengan berbagai dinamikanya. Sudahkah kita memperhatikan dan melestarikannya? Kitalah yang tahu!
Kemarin, seharian saya belajar "Brief Family Therapy" bersama Dr. Adriana Ginanjar, M.Sc, Psikolog dari Universitas Indonesia. Dalam lapangan psikologi, Terapi Keluarga mulai berkembang pada tahun 1950, bermula dari sebuah penelitian terhadap pasien skizofrenia, yang menyimpulkan bahwa keluarga dapat menjadi penyebab munculnya simtom-simtom skizofrenia dan dinamika patologis lebih banyak disebabkan oleh karena interaksi dalam keluarga, bukan karena karakteristik individu. Beberapa konsep penting dari Terapi Keluarga yang perlu mendapat perhatian dapat saya kemukakan antara lain, 1)munculnya masalah berkaitan dengan interaksi dalam keluarga dan lingkungan sosial, bukan disebabkan oleh satu orang tertentu, 2)rangkaian interaksi yang tidak tepat dapat memperburuk masalah yang ada, 3)anggota keluarga cenderung menggunakan komunikasi tidak langsung  dan menunda umpan balik, 4) pada dasarnya manusia memiliki kompetensi tetapi terhambat oleh interaksi keluarga yang tidak produktif. Bagi saya, konsep Terapi Keluarga ini sungguh mengingatkan saya (dan mungkin kita semua), tentang bagaimana sebenarnya situasi terkini dari kualitas interaksi di dalam keluarga saya (dan juga keluarga kita semua). Sungguh produktif dan mantapkah kualitas interaksi keluarga kita? Bila belum, usaha-usaha apa yang telah kita lakukan dan mungkin harus kita lakukan untuk memperbaiki kualitas interaksi di dalam keluarga kita? Kitalah yang tahu!

Hari ini, mulai dari siang sampai sore saya menghadiri dua undangan perkawinan, lalu dari sore sampai malam, saya menghadiri sebuah seminar tentang "Pencatatan Perkawinan dan Kelahiran". Bermula dari mata lalu turunlah ke hati, maka terjadilah perjumpaan dua insan, asam di gunung ikan dilaut bertemu di dalam belanga, yang kemudian bersepakat mengarungi segara kehidupan, diatas bahtera yang direstui menurut hukum agama masing-masing, bahtera yang berlayar setelah mendapat izin dari otoritas kelautan setempat, hehe..
Bahtera itu mulai berlayar, mungkin sering diterpa ombak-ombak kecil atau bahkan tak jarang badai datang menerjang...tetapi bahtera itu harus terus maju...arah angin memang tak bisa diubah dan diatur...tetapi tentu arah layar dapat dikondisikan oleh para awak bahtera tentunya. Pertanyaan tegasnya, sudahkah kita mengikat janji atau ijab kabul perkawinan dengan kehendak bebas dan berlangsung dalam ritus agama kita secara sah dan sudahkah perkawinan ini tercatat secara sipil menurut ketentuan di Republik tercinta? Sudahkah anak-anak yang dititipkan Tuhan pada kita juga mendapatkan perlindungan hak-hak perdatanya karena memiliki akta kelahiran? Kitalah yang tahu!   

Sahabat….kita semua memang berangkat dari keluarga...maka ingatlah selalu, bahwa apapun situasi dan pola hidup-pola asuh-pola tingkah keluarga kita masing-masing, akan menentukan siapakah kita dan bagaimana cara kita berpikir, cara kita merasa, cara kita bertindak dan memberi respon, dalam situasi-tempat apapun dan dengan siapapun. Disisi lain, keluarga juga dapat menjadi obat mujarab untuk berbagai penyakit kehidupan, termasuk kesesakan, keresahan dan kegalauan. Keluarga memang memiliki berbagai dimensi.....agama, sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, biologis, psikologis dll....yang sungguh perlu perhatian dan kerja keras... agar semuanya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan optimal menuju ke tepian nan cerah. Bila ini terjadi, maka tersenyumlah Sang Pemilik Kehidupan ini.

Sahabat....selamat menemukan, membangun dan mengembangkan keluarga kita masing-masing, dengan berbagai dimensi dan dinamikanya. Selamat berkeluarga….!
Salam Joss....

29 Mei, 2013

KEBANGKITAN NASIONAL, SI GALE-GALE, AKLIMATISASI DAN KEBANGKITAN DIRI

http://commons.wikimedia.org/wiki
Hari ini, 105 tahun sejak berdirinya Boedi Oetomo oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), Boedi Utomo sebagai sebuah organisasi memang tidak ada lagi. Tetapi tanggal berdirinya Boedi Utomo telah ditetapkan pemerintah sebagai hari kebangkitan nasional, betapa tidak karena Boedi Uetomo kemudian menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia. Dalam pelajaran sejarah, kita tahu bahwa pada awalnya Boedi Oetomo bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, tetapi sejak 1915 mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan politik, bahkan terakhir bergabung dengan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang digagas Bung Karno dan kemudian bergabung lagi dengan Persatuan Bangsa Indonesia menjadi Partai Indonesia Raya. Akhirnya sampai sekarang, setiap tanggal 20 Mei kita selalu memperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Pagi ini sebelum berangkat kerja, saya sempat menyaksikan sebuah saluran televisi swasta nasional menayangkan sebuah event yang digelar Fakultas Seni dan Budaya Universitas Negeri Medan, yaitu Gale-Gale Pong. Pagelaran ini dieksekusi dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dengan melibatkan mahasiswa dari kampus-kampus lain seperti Universitas Sriwijaya dan Universitas Andalas. Pertanyaannya, kenapa harus Gale-Gale Pong? Menurut penjelasan Panitia ketika diwawancara reporter televisi tersebut, dalam bahasa saya, pagelaran ini bermaksud untuk mengajak mahasiswa dan masyarakat secara umum untuk ikut melestarikan budaya Batak, salah satunya Tarian (Tortor) Si Gale – Gale ditengah meningkatnya suhu animo kalangan muda terhadap berbagai tarian dari luar seperti Gangnam Style dan Harlem Shake. Masyarakat tetap dapat menikmati tarian ‘sebrang’ tersebut tetapi juga sekaligus diingatkan bahwa kita juga punya tarian yang perlu dilestarikan. Secara konsep, Gale-Gale Pong dipadu dengan Gangnam Style dan Harlem Shake atau tarian modern lainnya, dengan iringan musik yang khusus diaransemen untuk itu. Tentunya ini menjadi sebuah performance seni tari dan musik yang layak diapresiasi.  Sejenak kita tilik, sebenarnya apa sich Tarian Si Gale-Gale? Secara pribadi, pertama kali saya menyaksikan Tarian Si Gale-Gale di Tomok pada tahun 2000. Dan itu menjadi satu-satunya kesempatan saya menyaksikan secara langsung tarian traidisional Batak Toba ini, sampai pada Oktober 2012, ketika saya dan rombongan melakukan perjalanan menghadiri Indonesian Youth Day di Sanggau – Kalimantan Barat, memenuhi amanat panitia bahwa setiap kontingen wajib membawa ‘segala hal’ yang mencirikan budaya asal masing-masing kontingen yang akan dipamerkan atau akan dipertunjukkan, maka Kontingen Medan membawa 2 set Patung Si Gale-Gale (lengkap dengan penarinya). Mulai dari Parade Budaya di kantor Bupati Sanggau, Tarian Si Gale-Gale sudah kami pertunjukkan, pada malam puncak acara Tarian Si Gale-Gale juga dipadukan dengan Tarian Cawan, selalu mendapat sambutan yang luar biasa antusiasnya dari para penonton. Bahkan tidak sedikit yang berfoto bersama dengan patung/penari Si Gale-Gale ketika dipajang distand pameran Medan. Tarian Si Gale-Gale sungguh sangat menarik karena ekstotik dan menghibur.

Menurut Thompson HS – pimpinan PLOT (Pusat Latihan Opera Batak) dalam Inside Sumatera, tarian ini sangat menghibur karena sebuah boneka yang terbuat dari kayu dapat menari seperti manusia. Kelihatannya memang seperti manusia jika semakin diperhatikan. Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisonal Batak. Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia. Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari. Asal muasal tarian ini bermula dari seorang raja yang kaya bernama Tuan Rahat. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Manggale. Anaknya tersebut diharapkan segera mendapat jodoh. Namun setiap perempuan yang disukainya selalu tak mau mendampinginya. Suatu ketika, sang raja turut mengirim anaknya berperang dalam rangka meluaskan wilayah kerajaan. Anak itu ternyata mangkat pula di medan perang. Untuk mengenang anaknya, sang raja memesan sebuah patung dibuatkan mirip sang anak, dan sehidup mungkin. Patung tersebut kemudian dinamainya Si Gale-Gale. Namun sang raja memesankan agar patung tersebut ditempatkan saja agak jauh dari rumah, yakni di sopo balian. Nanti, pada saat upacara kematiannya, patung itu dapat dijemput untuk menari di samping jenazahnya. Jadi pertunjukan Sigale-gale dulunya diadakan hanya kepada seorang raja yang kehilangan keturunan. Tapi kemudian, kebiasaan raja itu diperluas kepada setiap orang yang tidak punya keturunan. Setiap orang yang sengaja memesankan patung Sigale-gale untuk alasan itu disebut dengan papurpur sapata (menaburkan janji). Ketika kematian sudah tak terelakkan, Si Gale-Gale dengan tariannya menjadi semacam pengobat impian yang pernah kandas bagi orang-orang yang tidak mempunyai keturunan sampai pada upacara kematiannya.

Dalam benak saya, moment kebangkitan nasional yang diperingati dengan pagelaran Tarian Si Gale-Gale, ini sungguh menjadi sebuah refleksi yang baik. Betapa tidak, 68 tahun sudah umur sebuah negeri bernama Indonesia, tetapi belum semua lini kehidupan di negeri ini bangkit atau terbangkitan dari keterpurukan. Pendidikan dan kesejahteraan rakyat yang adil dan merata, masih menjadi sesuatu yang mahal juga langka di negeri ini. Mirip-mirip dengan Si Gale-Gale yang barangkali sudah banyak dilupakan orang. Mudah-mudahan, kita sebagai warga negeri ini, tidak sedang menyiapkan patung si Gale-Gale untuk sebuah pementasan ratapan kehilangan di masa depan. Lalu saya sendiri yang juga sudah 38 tahun menghirup napas kehidupan, masih tetap harus berjuang, demi kau dan si buah hati, seperti judul sebuah lagu pop. Sahabat, rupanya dalam perjuangan hidup ini, jatuh bangun, memang harus dirasakan dan dinikmati. Persoalannya bukan pada saat kita jatuh, dengan siapa kita jatuh atau dilubang mana kita jatuh atau dijatuhkan, tetapi persoalan sesungguhnya adalah bagaimana kita bangkit dari kejatuhan dan bergegas mengatur napas serta menata langkah demi 'puncak gunung kehidupan' apapun yang akan kita daki. Bagaimana kita tahu apa yang ada di puncak gunung itu, bagaimana kita dapat merasakan kesegaran udara di sebuah puncak gunung, bagaimana kita bisa memanjakan mata kita dengan keindahan panorama alam dari sebuah puncak gunung, kalau kita tidak pernah melangkahkan kaki mendaki gunung itu atau kalau kita hanya mengeluh tentang sakitnya kaki kita ketika terjatuh disebuah lereng? 

Berbicara tentang naik gunung (dalam arti yang sesungguhnya), saya jadi teringat tentang satu kata, 'aklimatisasi'. Aklimatisasi merupakan sebuah usaha yang dilakukan organisme hidup untuk melakukan sebuah penyesuaian fisiologis terhadap suatu tempat atau lingkungan baru. Saat mendaki gunung, salah dua kondisi yang perlu disesuaikan adalah, penyesuaian suhu tubuh terhadap suhu lingkungan gunung tersebut dan penyesuaian kadar oksigen. Hal ini biasanya dilakukan apabila seseorang ingin melakukan pendakian pada gunung yang memiliki puncak yang cukup tinggi, hingga ribuan meter di atas permukaan laut. Secara sederhana kira-kira begini. Misalnya kita ingin naik ke puncak gunung dengan ketinggian 3000 meter dari permukaan laut, maka saat kita berada di ketinggian 1000 m, kita naik menuju ketinggian 2000 m, lalu turun ke 1500 meter dan istirahat. Setelah itu kita naik ke 2500 meter, lalu turun ke 2000 meter, begitulah seterusnya sampai kita tiba dipuncak gunung berapapun tingginya. Kalau digambarkan, gerakan naik-turun-naik-turun dan naik tersebut kurang lebih seperti sebuah gerakan berayun.

Tapi catatan ini tidak akan membahas secara teknis bagaimana proses itu terjadi, tetapi catatan ini hendak mengingatkan (minimal mengingatkan saya), betapa saat kita ‘jatuh disebuah lereng kehidupan’, barangkali saat itu kita sedang ‘aklimatisasi’. Tahun 2006 ketika saya harus menguburkan mimpi-mimpi saya bersama sebuah event organizer yang saya dirikan bersama teman-teman, saya melakukan aklimatisasi, mundur sejenak, lalu saya mengambil keputusan untuk belajar psikologi dan akhirnya selesai di tahun 2011, kemudian saya melangkah dan melangkah lagi sampai kini. Maka, ketika hal ini juga engkau alami sahabat, ‘turunlah’ sejenak, refleksi dan berbenah diri, lalu mulai ‘naik’ lagi sebab ‘puncak gunung kehidupan pribadi’ hanya bisa kita daki kala kita tetap fokus, setia dan teguh pada misi perjalanan kita, apapun yang terjadi…saat jatuh, bangkitlah segera dan lanjutkan perjalanan. Saya kira para sahabat sepakat dengan saya, kita juga tidak ingin membuat patung si Gale-Gale hanya untuk meratapi sebuah ‘kehilangan’ yang tidak perlu, karena bagi saya apapun kehilangan yang saya alami, sesungguhnya sayalah yang mengijinkan kehilangan itu harus saya alami. Sekarang, bangkitlah dari kejatuhanmu, tarik napas dalam dan lembut, benahi diri, lalu kembali fokus dan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

Ini hanyalah sebuah catatan di Hari Kebangkitan Nasional, tidak perlu diingat, sebab ini hanyalah sebuah refleksi pribadi yang dibagi secara gratis dan semoga bermanfaat, atau paling tidak menginspirasi dalam Kebangkitan Dirimu. Salam Joss….


"SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL"

(Catatan ini dibuat dan diposting facebook tgl. 20 Mei 2013)

HATI-HATI DENGAN FOBIA BALON

Beberapa waktu lalu, dalam dua gelombang pelatihan kepemimpinan yang kami fasilitasi, saat membawa materi 'Motivasi’, saya dan tim mengajak peserta untuk memainkan sebuah permainan meniup balon. Secara singkat gambaran prosedurnya begini : 1) Kepada semua peserta diberikan sebuah balon yang kempes dan masih baru tentunya; 2)Masing-masing peserta meniup balon tersebut sebesar-besarnya, bahkan sampai meletus. Biasanya ada peserta yang takut, maka fasilitator harus memotivasi supaya semua peserta mau  melakukannya dan membantu peserta untuk memecahkan balonnya. Seorang teman dari Palembang, Mas Agustinus Susanta, menambahkan catatan khusus untuk permainan ini, khususnya untuk mengurangi resiko kecelakaan, 1)disarankan saat meniup balon, posisi tangan melindungi bibir peniup, 2)posisi balon dijauhkan dari telinga peserta lain (jika niupnya rame-rame).

Dari proses ini, sebagian besar peserta berhasil meniup balon sampai pecah, sesuai petunjuknya yaitu meniup balon sebesar-sebesar dan harus sampai pecah. Maka terdengarlah bunyi letusan balon yang memenuhi seluruh ruangan. Tetapi ada juga peserta yang tidak bisa meniup balon sampai pecah. Ini terjadi karena peserta takut meniup balon. Bahkan ada yang sampai menangis dan terlihat sekali ketakutan menyelimuti seluruh dirinya, dan ada yang tidak mau memegang bahkan melihat balon. Bagi mereka yang sungguh-sungguh ketakutan ini, kami tidak memaksakan mereka harus meniup balon tersebut. Setelah semua balon peserta pecah, kecuali beberapa orang yang ketakutan tersebut, proses dilanjutkan dengan refleksi. Kepada peserta diajukan beberapa pertanyaan :
  1. Mengapa ada orang yang merasa senang/takut/sangat takut di saat melaksanakan permintaan fasilitator untuk meniup balon sampai pecah?
  2. Bagaimana perasaan anda di saat ada teman yang sudah berhasil meniup balonnya sampai pecah, sementara anda belum berhasil?
  3. Bagaimana perasaan anda setelah mampu meniup balon tersebut sampai pecah?
  4. Apa makna dari  permainan tersebut?
Sekarang coba kita lihat prosesnya. Saat kami membagi balon kepada para peserta, secara umum para peserta merasa geli, lucu dan ada yang tersenyum, ada juga yang mulai tertawa. Situasi sontak berubah, disaat kami meminta para peserta meniup balon-balon tersebut sampai pecah. Di dalam pikiran para peserta, mulailah bermunculan bayangan-bayangan yang kurang menyenangkan mulai dari kekurangmampuan meniup sampai suara letusan balon atau kemungkinan pecahan balon yang mengenai wajah. Secara umum, ketakutan yang dihadapi oleh kebanyakan orang ternyata menjadi sesuatu yang subjektif. Banyak orang yang pikirannya sudah dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk di dunia ini. Sejak bangun pagi kita sudah disuguhi dengan berbagai informasi yang menegangkan atau menakutkan dan membuat bulu kuduk kita berdiri. Pelajaran dari permainan ini penting diketahui, bahwa ketakutan itu tidak selamanya menakutkan. Jika setiap orang sadar akan hal itu, hidupnya akan menjadi termotivasi, akan menjadi lebih tenang, dan kenyamanan batin dapat dinikmati. Jika motivasi lebih kuat dari ketakutan, maka seseorang dapat menghadapi masalah dengan tenang dan pikiran jernih. Banyak ketakutan kita yang jauh dari realitas hidup. Jika demikian, apakah Anda akan tetap hidup dalam ketakutan?

Permainan ini memang berhasil dieksekusi dengan baik dan kemudian proses refleksinya juga baik adanya. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus, yaitu para peserta yang belum berhasil meniup balon tersebut sampai pecah. Bila ketakutan mereka hanyalah sekedar ‘ketakutan biasa’, yaitu takut dengan suara balon meletus yang keras atau takut pada pecahan balon yang akan mengenai wajahnya, setelah kita beri motivasi, kita ulangi petunjuk menghindari resiko bahkan kita beri contoh meniup balon sampai pecah secara benar, mereka akan berhasil melakukannya. Masalahnya – dan ini yang paling penting, setelah ditelusuri, rupanya para peserta yang tidak berhasil meniup balon sampai pecah tersebut memiliki ‘pengalaman tertentu’ di masa lalu dalam hidupnya yang berkaitan atau berhubungan dengan balon yang kemudian menimbulkan ketakutan bahkan fobia balon. Kepada peserta tersebut kami lalu memanggil mereka secara khusus dan memberi penanganan khusus juga. Atas kesediaan mereka, beberapa diantaranya diterapi dengan pendekatan hipnoterapi dan berhasil. Setelah proses terapi selesai, kepadanya diberikan balon lalu diminta melanjutkan tugasnya yang belum selesai dan mereka berhasil. Yang tadinya takut memegang bahkan melihat balon, jadi berani melihat, memegang dan bahkan meniup balon sampai pecah.

Pesan penting bagi para fasilitator dinamika kelompok dan sejenisnya, hati-hatilah dalam memandu permainan meniup balon sampai pecah, kecuali anda memiliki kemampuan mengatasi persoalan klinik trauma ataupun fobia balon. Bagi anda yang masih takut, trauma ataupun fobia pada balon dan fobia apa saja, silahkan hubungi Bung Joss. Semoga catatan kecil ini bermanfaat. Salam Joss….

29 Mei, 2012

SEBERKAS CERITA FUNTASTIC LEARNING

Teman-teman yang baik, dibawah ini saya persembahkan seberkas cerita yang dibuat para siswa SD yang pernah belajar Funtastic Learning bersama saya. Melalui pelatihan ini, setiap siswa dilatih untuk mendalami, menggumuli dan mempelajari 3 Nilai Positif (I Can, I Will dan I Do), yang mampu memberdayakan siswa untuk mencapai mimpi, cita-cita atau prestasi belajar yang didambakan.

Dan cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari nilai I Do yang dipelajari, khususnya tentang bagaimana cara para siswa untuk menghafalkan pelajaran atau sederetan kata dengan cara mengemasnya dalam sebuah cerita. Tentu saja ada syarat dan cara membuat cerita-cerita tersebut, sehingga kata-kata/pelajaran yang ingin dihafal akan lebih cepat dihafal dan sekali dihafalkan akan langsung tersimpan permanen pada long term memory (memori jangka panjang) setiap siswa. Ini hanyalaha salah satu cara dari nilai I Do dan sudah pasti masih banyak lagi cara lain.

Anda penasaran? Untuk sementara perhatikan saja kata-kata yang dicetak miring dalam cerita dibawah ini dan anda dapat menemukan polanya. Namun bila ingin mengetahui lebih banyak teknik Funtastic Learning dengan berbagai metode pembelajaran yang unik, menarik, menyenangkan dan sungguh ramah otak serta selaras dengan potensi pikiran anda atau anak anda, maka segera hubungi saya.

Sekarang, mari kita nikmati seberkas cerita dibawah ini. Semoga bermanfaat!

M. Alfaridzie Yoandari :
Ada pohon yang giginya tumbuh tembakau. Pohon itu berada ditengah laut, mereka melihat si pipa dan jagung sedang berpacaran sampai hati mereka berteratai-teratai. Mereka menaiki mobil dan memakai sabuk. Jagung sambil menghitung uang menggunakan kalkulator untuk membeli pistol untuk menyerang pabrik pepsodent. Belalang yang sedang memakai dasi terkejut dengan hal tersebut. Belalang mengirimkan roket untuk melawan mereka, malah roketnya jatuh ke parit hingga berlumut. Seruling memanggil bayam untuk meminta bantuan. Ternyata bayam sedang keluar rumah untuk membeli boneka.

Diky Diwo Suwanto :
Bayangkan pohon anda sedang marah. Kemudian ia memarahi tembakau, lalu tembakau lari ke laut. Di laut terdapat pipa yang sedang mengejar jagung yang tidak punya hati. Kemudian jagung membunuh teratai. Kemudian jagung lari ke mobil dan memakai sabuk pengaman. Kemudian kalkulator menangkapnya dan menembaknya dengan sebuah pistol. Si jagung menghindar dan tembakau itu mengenai pepsodent. Kemudian pepsodent itu mencrot dan mengenai belalang yang sedang memakai dasi. Belalang marah-marah dan ia  lompat ke atas roket dan membalasnya dengan menabraknya memakai roket tersebut. Si kalkulator menghindar dan mengenai lumut yang sedang bermain seruling dan bayam yang sedang bermain boneka.

Roffif Aldy :
Ada pohon mempunyai tangan. Ditangannya ada tembakau. Pohon itu disebelah laut. Di dalam laut itu ada pipa yang di dalamnya ada jagung. Jagung itu sedang memakan hati di dekat teratai. Teratai tersebut memakai sabuk dan kalkulator  mengeluarkan tangan untuk memegang pistol. Ketika menembak pistol itu mengeluarkan pepsodent. Ternyata ada belalang yang sedang memakai dasi terkena tembakan pistol tersebut, dan belalang yang memakai dasi tersebut mengeluarkan tangannya dan menembakkan roket yang berlumut ke arah pistol tersebut dan ada seruling yang memakan bayam dekat boneka.

Raka Fiqri Andrean :
Bayangkan pohon anda di matanya tumbuh tembakau dan di mulutnya ada laut, dan di lehernya pipa untuk menyiram jagung. Dan jagung punya hati yang di atas teratai dan teratai memakai sabuk. Sabuk menghitung dengan kalkulator. Kalkulator punya pistol yang di dalamnya berisi pepsodent dan belalang memakai dasi mempunyai roket dan roket itu ada lumut. Lumut itu sedang memainkan seruling dan bayam memainkan boneka.

Olivia Sukma Zein :
Bayangkan pohon mempunyai 3 mata. Di mata pohon ada tembakau. Sisa tembakau dibuang ke laut dan terdapat pipa di pinggir laut dan sampah jagung. Kita pun harus hati-hati membawa teratai, sabuk pun menghitung dengan kalkulator berapa jumlah pistol dan pepsodent. Belalang pun terbang memakai dasi dan mengenai roket. Roket pun menghindar dan ternyata terkena lumut. Lumut pun bermain seruling dengan judul bayam. Boneka pun tertawa mendengarkannya.

By : Alviola Zhafirah
Bayangkan pohon mempunyai kaki dan tangan. Mengangkat tumbuhan tembakau dan melemparkannya ke laut mengenai pipa, pipanya sedang memakan jagung. Jagung itu mempunyai hati, di dekat hatinya ada tumbuhan teratai, teratai itu memakai sabuk. Sabuk mempunyai teman yang jahat namanya kalkultor. Kalkultor itu pun mengambil pistol untuk menembak sabuk. Tembakannya mengenai pepsodent. Pepsodent pun memanggil belalang untuk membalasnya. Rupanya belalang memanggil dasi. Dasi sedang terbang bersama roket. Roket pun menabrak lumut. Lumut itu sedang memainkan seruling, lumut itu pun marah dan menelpon si bayam, rupanya si bayam  sedang keluar untuk membeli boneka.

Shelly Natania Sipayung :
Ada sebuah pohon berbulu mata tembakau yang berada di laut. Diseberang laut, terdapat pipa yang berada di laut. Di seberang laut terdapat pipa yang berada di samping jagung. Pipa menyukai jagung, tapi sayang ternyata jagung jatuh hati kepada teratai. Teratai memiliki sabuk pengaman di dekat kalkulator. Lalu kalkulator melemparkan pistol kepada musuhnya pepsodent. Akan tetapi pistol itu mengenai belalang hingga belalang menangis. Lalu belalang berusaha menghapus air matanya dengan dasi. Lalu belalang memutuskan untuk meninggalkan negaranya dengan roket. Setelah 5 tahun kemudian, roket itu berlumut. Belalang pun mencari hiburan dengan seruling, dan mencari makanan bayam. Belalang tidak mempunyai teman selain boneka yang didapatnya dari sahabatnya.

Christian David :
Ada sebuah pohon tembakau disekitar laut. Pipa melihat si jagung yang mempunyai hati. Disekitarnya ada sebuah teratai yang besar. Ia pun berencana  membeli sebuah barang. Lalu ia pun mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman dan ia pun memakai kalkulator untuk menghitung duit yang dimilikinya agar dapat membeli sebuah pistol. Lalu ia coba membuka pepsodent, setelah berhasil pepsodent tersebut tutupnya terkena belalang yang berdasi. Lalu belalang tersebut membalas dengan roket yang berlumut. Pipa pun menangkis dengan seruling yang dimilikinya. Mungkin ia lapar lalu dia memakan bayam lalu ia bermain sebuah boneka.

Demikian cerita mereka...Salam Joss!

18 April, 2012

GAYA BELAJAR VISUAL

Modalitas dan gaya belajar ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun yang diingat. Warna, hubungan, ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Berikut adalah cirri modalitas gaya belajar visual :  

Fisiologi :
  • Gerakan bola mata ke atas
  • Bernapas dengan pernapasan dada
  • Nada suara tinggi
  • Napas pendek/dangkal dan cepat
  • Mengakses informasi dengan melihat ke atas
  • Tempo bicara cepat
  • Pandangan muka ke atas
  • Tangan bergerak di atas dada
  • Postur atas dan tegak
  • Kata-kata yang sering dipakai oleh orang visual adalah “melihat, memandang, menonton, fokus”.
  • Bahasa yang digunakan, misalnya “Saya dapat melihat maksud anda”, “Ini kelihatannya bagus”, “Dapatkah anda bayangkan?”, “Hal ini tampaknya cukup rumit”, “Saya mendapatkan gambarannya” atau “Kelihatannya benar”.
  • Teratur memperhatikan segala sesuatu dan menajga penampilan.
  • Dalam keadaan santai, mereka biasanya lebih menyukai kegiatan menonton film, video, pergi ke bioskop atau membaca buku.
  • Dalam berkomunikasi, mereka senang berbicara dengan tatap muka.
  • Suka memperhatikan gerak-gerik lawan bicara.
  • Bicara cepat, berapi-api melalui gambar yang ada dalam bayangannya, kurang menyukai dalam hal mendengar orang lain berbicara.
  • Kebanyakan mereka melupakan nama orang yang ditemui, tetapi ingat pada wajahnya.
  • Ketika sedang tidak ada kegiatan, mereka senang mengamati sesuatu atau seseorang.
  • Berpenampilan rapi dan bersih.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai dengan orang visual adalah konseptor, perencana dan arsitektur.

Karakteristik :

  • Kata-kata yang sering dipakai oleh orang visual adalah “melihat, memandang, menonton, fokus”.
  • Bahasa yang digunakan, misalnya “Saya dapat melihat maksud anda”, “Ini kelihatannya bagus”, “Dapatkah anda bayangkan?”, “Hal ini tampaknya cukup rumit”, “Saya mendapatkan gambarannya” atau “Kelihatannya benar”.
  • Teratur memperhatikan segala sesuatu dan menajga penampilan.
  • Dalam keadaan santai, mereka biasanya lebih menyukai kegiatan menonton film, video, pergi ke bioskop atau membaca buku.
  • Dalam berkomunikasi, mereka senang berbicara dengan tatap muka.
  • Suka memperhatikan gerak-gerik lawan bicara.
  • Bicara cepat, berapi-api melalui gambar yang ada dalam bayangannya, kurang menyukai dalam hal mendengar orang lain berbicara.
  • Kebanyakan mereka melupakan nama orang yang ditemui, tetapi ingat pada wajahnya.
  • Ketika sedang tidak ada kegiatan, mereka senang mengamati sesuatu atau seseorang.
  • Berpenampilan rapi dan bersih.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai dengan orang visual adalah konseptor, perencana dan arsitektur.

Strategi Mengajar
  • Menggunakan media kerts tulis dengan tulisan atau tinta berwarna daripada papan tulis.
  • Mendorong siswa untuk menggambarkan informasi dengan menggunakan diagram dan warna.
  • Beri kode warna untuk bahan pelajaran dan sebaiknya dorong siswa untuk mencatat aneka warna.
  • Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan.
  • Membutuhkan gambaran, tujuan menyeluruh, menagkap detail dan mengingat apa yang dilihat.
  • Suka membuat coretan-coretan.
  • Gerakan tubuh/body languange
  • Buku, majalah
  • Grafik, diagram
  • Peta pikiran/mind maping
  • Visualisasi
  • OHP/LCD Projector
  • Poster/leaflet
  • Flow chart
  • Highlighting (memberi warna pada bagian yang dianggap penting)
  • Kata-kata kunci yang dipajang disekeliling kelas
  • Tulisan dengan warna yang menarik
  • Model/peralatan.

GAYA BELAJAR AUDITORI

Gaya belajar  ini mengakses segala bunyi dan kata. Musik, nada irama, rima, dialog internal dan suara menonjol. Berikut ciri modalitas gaya belajar auditori :  

Fisiologi
  • Gerakan bola mata sejajar telinga.
  • Napas merata di daerah diagfragma.
  • Suara jelas dan kuat, sedang, mengalun dan memiliki ritme.
  • Bicara sedikit lebih lambat dari orang visual.
  • Mengakses in formasi dengan menengadakan kepala.
  • Pandangan muka ke depan.
  • Postur tubuhnya datar seimbang.
  • Peka akan fungsi pendengarannya.
   
Karakateristik
  • Perhatian mudah terpecah.
  • Berbicara dengan pola berirama.
  • Belajar dengan cara mendengarkan.
  • Ketika membaca suka menggerakkan bibir atau bersuara.
  • Berdialog secar internal dan eksternal.
  • Berpartisipasi dalam diskusi dan debat.
  • Membaca teks dengan suara keras.
  • Menciptakan music jingle untuk meningkatkan daya ingat.
  • Kata-kata yangs erring dipakai orang auditori, yaitu mendengar, melengking, tersedu, gembira, meliuk-liuk.
  • Kalimat yang digunakan misalnya, “Saya mendengar apa yang kamu katakan”, “Ini masih kurang terdengar dengan jelas”, “Hal itu terdengar menarik”, “Suaranya melengking dan nyaring”.
  • Dalam keadaan santai, mereka biasanya lebih menyukai mendengarkan musik.
  • Biasanya agak kurang memperhatikan laan bicaranya, dia hanya mendengar suara lawan bicaranya. Oleh karena itu mereka lebih senang berbicara melalui telpon.
  • Mereka sangat menikmati pembicaraan dengan orang lain.
  • Kebanyakan mereka melupakan wajah orang yang ditemui, tetapi mengingat namanya.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai untuk orang auditori adalah pembawa acara, presenter, pembicara dan penyanyi.
   
Strategi Mengajar
  • Suara yang jelas dengan intonasi yang terarah dan bertenaga.
  • Gunakan variai vocal (perubahan nada, kecepatan dan volume).
  • Gunakan pengulangan dan mintalah siswa menyebutkan kembali konsep pelajaran.
  • Gunakan musik sebagai aba-aba untuk memulai kegiatan rutin.
  • Membaca dengan keras
  • Menggunakan pembicara tamu
  • Sesi tanya jawab
  • Rekaman ceramah/kuliah
  • Diskusi dengan teman
  • Belajar dengan mendengarkan atau menyampaikan informasi
  • Kuliah
  • Permainan peran (role play)
  • Teknik Mnemonics
  • Musik
  • Kerja kelompok.

GAYA BELAJAR KINESTETIK

Modalitas atau gaya belajar kinestetik mengakses segala jenis gerak dan emosi. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional dan kenyamanan fisik menonjol. Berikut ciri modalitas gaya belajar kinestetik :  

Fisiologis
  • Gerakan bola mata kearah bawah.
  • Pernapasan perut dan dalam.
  • Suara cenderung berat, lambat, dalam dan ada jeda.
  • Banyak menggunakan gerakan/ bahasa tubuh.
  • Mengakses informasi sambil melihat ke bawah.
  • Postur tubuh cenderung ke bawah dan menunduk.

Karakteristik
  • Menyentuh orang yang berdiri berdekatan.
  • Belajar dengan melakukan.
  • Menunjuk tulisan saat membaca.
  • Kata-kata yang sering dipakai oleh orang kinestetik adalah merasa, halus atau kasar, berat atau ringan, menangani atau melangkah, mengingat sambil berjalan.
  • Kalimat yang biasanya digunakan misalnya, “Ini rasanya kurang pas”, “Ini rasanya masih kurang jelas”,  “Suasana di tempat ini terasa segar”.
  • Dalam berkomunikasi biasanya senang dengan melakukan sesuatu.
  • Dalamkeadaan santai mereka biasanya lebih menyukai games dan berolahraga.
  • Mereka berbicara agak lambat, lebih menggunakan bahasa tubuh, gesture dan ekspresi.
  • Dalam keadaan tidak ada kegiatan mereka cenderung gelisah.
  • Bidang pekerjaan yang sesuai dengan orang kinestetik adalah pelukis, pemahat, koki dan atlit.

Strategi Mengajar
  • Keterlibatan fisik.
  • Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep.
  • Ciptakan simulasi konsep agar siswa mengalaminya.
  • Peragakan konsep sambil memberi kesempatan kepada siswa untuk mempelajari langkah demi langkah.
  • Ijinkan siswa berjalan-jalan di dalam kelas.
  • Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar dan doronglah siswa untuk mengalaminya.
  • Meniru adegan atau demonstrasi.
  • Field trip.
  • Membuat model.
  • Memainkan peran/skenario.
  • Highlighting.
  • Tick It.
  • Berjalan.
  • Membuat peta pikiran.
  • Berjalan-jalan ketika sedang membaca.
  • Menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu.